Outdoor Learning Risk Assestment

Outdoor Learning Risk Assestment

Menurut jenisnya,  resiko dikategorikan menjadi:

  1. Perceived Risk yaitu penilaian – penilaian yang sifatnya subjektif terhadap kemungkinan resiko kegiatan. Jadi, resiko disini masih berupa perkiraan – perkiraan atau kekhawatiran-kekhawatiran yang sifatnya psikologis dan belum tentu terjadi. Besarnya resiko dalam Perceived Risk ini satu orang dengan yang lain berbeda. Contohnya: tantangan untuk berada sendirian di sebuah ruangan penuh hantu semalam suntuk tingkat kesulitannya bervariasi tergantung persepsi si pelaku tentang dunia perhantuan. Semakin dia tidak meyakini tingkat hazard yang bisa ditimbulkan oleh hantu, semakin rendah tingkat resiko yang dia pahami.
  2. Real Risk adalah resiko yang benar-benar ada dalam sebuah kegiatan. Bahaya yang ada dalam kegiatan tersebut sifatnya nyata dan bisa diukur (measurable) meski terkadang bahaya nyata ini sering justru tidak disadari oleh si pelaku. Contohnya: bila kita membawa sekelompok anak  yang tidak bisa berenang sama sekali melakukan kegiatan arung jeram untuk pertama kalinya. Mungkin saja kita memulai pada lokasi sungai yang tenang dan menyenangkan sehingga beberapa orang mulai berpikir untuk tidak mengenakan life jacket mereka. Mereka tidak menyadari bahwa aliran sungai ini akan melalui beberapa jeram berbahaya dimana kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat tinggi.

Sedangkan menurut factor penyebabnya bisa dikelompokkan kedalam 3 (tiga) faktor, yaitu:

  1. Manusia
  2. Perlengkapan kegiatan
  3. Lingkungan

Cara yang sederhana dalam menilai besar kecilnya tingkat resiko kegiatan adalah dengan melakukan pengamatan dan evaluasi terhadap kegiatan yang dijalankan dan atau membayangkan diri kita berada pada sebuah kemungkinan situasi paling buruk dalam aktivitas tersebut. Kita menghitung kemungkinan bahaya yang timbul dari ke-3 faktor di atas: Apakah SDM yang terlibat memiliki kompetensi cukup untuk aktivitas yang dilakukan? Apakah perlengkapan kegiatan sudah standar? Apakah lokasi yang dipergunakan cukup aman? Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut akan memudahkan kita dalam mengambil langkah-langkah pengurangan resiko kecelakaan

Soel Winarno, S Pd
Outdoors Specialist

Be Proactive

Be Proactive

Menjadi manusia proaktif berarti Anda secara sadar mengambil tanggung jawab atas kehidupan Anda sendiri. Kehidupan yang semakin cepat berubah adalah tantangan yang harus disikapi dengan proaktif. Dalam setiap situasi, Anda akan mempertimbangkan kondisi yang dihadapi kemudian mengambil keputusan. Pertimbangan segala resiko dan dampak yang akan terjadi dijadikan sebagai bahan pertimbangan sebelum menagambil sebuah keputusan.

Orang yang proaktif akan menjalankan setiap keputusan yang dia ambil dan berusaha menjalankannya sebaik mungkin. Ketika bekerja dia akan fokus pada pekerjaannya dan sebaliknya jika dia memilih bersantai dia akan menikmati masa santainya. Menempatkan diri pada situasi dan kondisi sebaik mungkin adalah langkah tepat yang harus diambil oleh pribadi proaktif.

Orang proaktif tidak akan menyalahkan keadaan. Bukan mencari kambing hitam dan mengkambing hitamkan. Sebab tidak selamanya situasai dan kondisi selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jika kondisi yang dihadapi tidak nyaman, orang proaktif akan mencari cara untuk mengubahnya. Mencari solusi kreatif untuk keluar dari segala keadaan yang kurang nyaman adalah langkah harus yang harus diambil. Dan tentunya selalu berusaha untuk mengukir prestasi dengan karya gemilang.

Orang proaktif memusatkan perhatian pada apa yang bisa diperbaiki. Mereka tidak menyalahkan masa lalu. Melainkan mereka menjalani apa yang ada di tangan mereka saat ini dan bagaimana melakukannya sebaik mungkin. Memandang kedepan sebagai nahkoda visi adalah arah yang selalu dipegang agar tidak terseret arus dan tersesat dalam lingkaran masalah.